teori perilaku produsen

Teori Perilaku Produsen

Teori perilaku produsen disini akan membicarakan bagaimana perilaku produsen didalam mengalokasikan dana yang dimiliki untuk penggunaan faktor produksi atau yang akan diproses menjadi output. Dalam teori perilaku produsen ini berlaku hukum The Law of Diminishing Return dalam penggunaan faktor produksinya. Produsen dianggan memiliki pengetahuan sempurna atas faktor produksinya dan produsen memiliki tujuan untuk memaksimumkan tingkat produksi.

Teori perilaku produsen ingin menyoroti aktivitas produksi yang dilakukan oleh produsen dalam mengubah faktor produksi menjadi barang dan jasa (output). Dalam menghasilkan output, terdapat dua kategori input yang digunakan yaitu faktor produksi tetap (fixed input) dan faktor produksi variabel (variable input). Faktor produksi tetap adalah faktor produksi yang jumlah penggunaannya tidak bergantung pada jumlah yang diproduksi. Faktor produksi tetap ini harus tetap ada meskipun tidak ada aktivitas produksi yang dilakukan. Contohnya mesin pabrik. Tingkat produksi sampai titik tertentu tidak perlu menambah mesin, bahkan produksi nol sekalipun tidak menambah mesin. Sehingga mesin bersifat tetap.

Sedangkan faktor produksi variabel yaitu faktor produksi yang bergantung pada jumlah output yang diproduksi. Semakin banyak output yang ingin dihasilkan maka semakin besar pula faktor produksi variabel yang dibutuhkan. Contohnya buruh harian di pakrik. Bila ingin menambah output dari pabrik, dapat dilakukan dengan menambah buruh yang menghasilkan output. Bila buruh/tenaga kerja berkurang, tentu output yang dihasilkan akan berkurang juga.

Dalam jangka panjang, semua faktor produksi akan bersifat sebagai faktor produksi variabel. Namun dalam jangka pendek, tidak memungkinkan untuk menambah faktor produksi tetap sehingga yang mempengaruhi produksi bergantung pada faktor produksi variabel.

Teori perilaku produsen dalam jangka pendek

Untuk dapat mengerti alokasi faktor produksi dalam proses produksi di perusahaan, para ekonom membagi faktor produksi kedalam dua faktor yaitu modal dan tenaga kerja. Faktor produksi yang digunakan untuk menghasilkan output digambarkan dalam fungsi produksi berikut:

Q = f (K, L)

Dimana Q adalah jumlah output, K adalah barang modal, dan L adalah tenaga kerja.

Dalam tulisan teori perilaku produsen ini akan diuraikan bagaimana model produksi dengan satu faktor produksi variabel. Istilah produksi dengan satu faktor produksi variabel disini dalam kerangka analisis jangka pendek. Karena dalam jangka pendek, barang modal dianggap sebagai faktor input tetap dan tidak memungkin untuk mengubah jumlah input dalam jangka pendek. Sehingga produksi ditentukan oleh alokasi efisensi dari tenaga kerja.

Untuk dapat mengalokasikan faktor produksi yang efisien, perlu untuk memahami pada tahap mana produsen untuk memproduksi dan sampai titik mana harus berhenti produksi. Sebelum mempelajari tiga tahap produksi dalam teori perilaku produsen ini, perlu untuk mempelajari terlebih dahulu istilah-istilah yang akan digunakan dalam pembahasannya. Istilah yang harus diketahui yaitu produksi total, produksi marginal, dan produksi rata-rata.

Istilah-istilah dalam teori perilaku produsen

1. Produksi total, produksi marginal, dan produksi rata-rata

Produksi total adalah banyaknya produksi yang dihasilkan dari penggunaan total faktor produksi. Adapun produksi total dapat dirumuskan dengan:

TP = f (K, L)

Dengan TP adalah produksi total, K adalah barang modal, dan L adalah tenaga kerja. Dalam tulisan ini barang modal dianggap konstan karena analisis disini pada jangka pendek.

Produksi total secara matematis akan mencapai maksimum apabila turunan pertama dari fungsinya bernilai sama dengan nol. Produksi total memiliki turunan pertama fungsinya yaitu produksi marginal (MP). Sehingga produksi total (TP) akan maksimum saat MP sama dengan nol.

Adapun produksi marginal adalah tambahan produksi karena penambahan satu unit faktor produksi yang digunakan. Produksi marginal dapat dirumuskan dengan:

MP = TP’ = d TP / d L

Sehingga perusahaan dapat terus menambahkan tenaga kerja yang dimiliki pada saat nilai MP > 0 karena tambahan tenaga kerja akan menambah produksi. Namun apabila nilai MP < 0, maka tidak boleh menambah tenaga kerja. Karena penambahan tenaga kerja justru akan mengurangi produksi total. Saat nilai MP < 0 merupakan indikasi berlakunya hukum penambahan hasil yang semakin menurun atau The Law of Diminishing Return.
Adapun Produksi rata-rata adalah rata-rata output yang dihasil per unit faktor produksi. Rumus untuk menghitung produksi rata-rata yaitu:

AP = TP/L

Dengan AP adalah produksi rata-rata.

Penjelasan lengkap mengenai produksi total, produksi marginal, dan produksi rata-rata, dapat dibaca di tulisan selanjutnya.

 

TAHAP-TAHAP PRODUKSI

Dalam membahas teori perilaku produsen, Penting untuk memahami proses produksi dengan melihat gerakan perubahan dari nilai TP. Dengan memahami ketiga istilah diatas dapat menjadi prinsip umum untuk menganalisis alokasi faktor produksi dari perusahaan. Dalam tahap produksi, terdapat tiga tahapan produksi yaitu:
1. Tahap 1 yaitu sampai pada kondisi AP maksimum
2. Tahap 2 yaitu antara nilai AP maksimum sampai saat MP sama dengan nol
3. Tahap 3 yaitu saat MP sudah bernilai < 0 (negatif)

Untuk dapat memahami ketiga tahap diatas, coba perhatikan gambar kurva berikut:

 

Tahap 1 yaitu sampai pada kondisi AP maksimum. Pada tahap 1 seperti pada gambar diatas terlihat bahwa slope kurva TP meningkat sangat tajam. Pada tahap ini, menambah juga tenaga kerja akan meningkatkan jumlah produksi total maupun produksi rata-rata. Hasil yang diperoleh dari penambahan tenaga kerja masih jauh lebih besar dari tambahan upah yang harus dibayarkan. Produksi jangan dihentikan pada tahap ini karena akan merugikan. Tahap ini berlangsung hingga AP maksimum.

Tahap 2 yaitu antara nilai AP maksimum sampai saat MP sama dengan nol. Pada tahap kedua ini produksi total masih meningkat, produksi marginal dan produksi rata-rata mulai mengalami penurunan. Meskipun produksi marginal dan produksi rata-rata mengalami penurunan namun nilainya masih positif. Terjadinya penurunan pada nilai MP dan AP pada tahap ini karena mulai berlakunya hukum penambahan hasil yang semakin menurun. Sehingga bila perusahaan menambah tenaga kerja akan mendorong produksi total hingga mencapai nilai maksimum. Sebaiknya perusahaan berproduksi pada tahap ke 2 ini.

Tahap 3 yaitu saat MP sudah bernilai < 0 (negatif). Pada tahap ini perusahaan sudah tidak memungkinkan untuk menambah produksi karena dengan menambah tenaga kerja justru akan menurnkan produksi total. Bila menambah tenaga kerja pada tahap ini justru membuat kerugian bagi perusahaan.

Dari ketiga tahapan diatas, perusahaan sebaiknya produksi pada tahap ke dua. Perusahaan harus berhenti menambah jumlah tenaga kerja pada saat tambahan biaya yang harus dikeluarkan sama dengan tambahan pendapatan. Bila tambahan pendapatan lebih besar dari tambahan biaya yang diperlukan untuk menambah tenaga kerja (sehingga menambah output), maka perusahaan akan terus menambah tenaga kerjanya.

Tambahan yang merujuk pada model satu faktor yang berpengaruhi disini yaitu dapat berupa upah (wage) dari tenaga kerja. Penambahan biaya yang didapat produsen yaitu dari gaji tambahan untuk menambah tenaga kerja. Sedangkan tambahan pendapatan dapat merujuk pada produksi marginal yang dikalikan dengan harga jual barang. Sehingga alokasi tenaga kerja (faktor produksi) yang dianggap efisien yaitu jika:

W = MP (P)

W adalah upah, MP adalah produksi marginal, dan P adalah harga.

 

Demikian pembahasan singkat terkait teori perilaku produsen ini. Pembahasan ini masih belum lengkap, perlu juga memahami bagaimana perilaku produsen dalam menggunakan faktor produksi yang dua faktor atau lebih. Uraian pendekatan teori perilaku produsen dengan model dua faktor produksi akan dibahas pada uraian selanjutnya.

Bagikan:

Leave a Reply