Opportunity Cost (Biaya Peluang)

By | April 25, 2020

Opportunity Cost (Biaya Peluang)

Opportunity cost (Biaya peluang) merupakan salah satu konsep penting tentang pembuatan keputusan yang dipelajari dalam ilmu ekonomi. Untuk dapat memahami konsep ini, perhatikan definisi dari biaya peluang (opportunity cost) menurut tiga ahli ekonomi berikut:

  • Opportunity cost adalah alternative yang paling berharga yang harus direlakan untuk mendapatkannya (Parkin, 2012).
  • Biaya peluang adalah alternatif terbaik yang kita tinggalkan, atau menyerah ketika kita membuat pilihan atau keputusan. (Case, Fair, & Oster, 2012).
  • Pengertian biaya peluang (opportunity cost) adalah apapun yang harus direlakan untuk mendapatkan suatu hal (Mankiw, 2015).
  • Dalam dunia yang memiliki kelangkaan, memilih satu hal berarti melepaskan sesuatu yang lain. Biaya peluang suatu keputusan adalah nilai barang atau jasa yang dilepaskan. (SAMUELSON & NORDHAUS, 2010)

Dari keempat pengertian biaya diatas dapat disimpulkan bahwa biaya peluang (opportunity cost) adalah alternatif yang paling berharga yang harus dikorbankan ketika membuat keputusan untuk mendapatkan sesuatu.

Konsep biaya peluang (opportunity cost) berbicara tentang pilihan dalam pembuatan keputusan. Semua yang terjadi dalam perekonomian adalah hasil dari ribuan keputusan individu. Setiap saat manusia dihadapkan pada pembuatan keputusan. Misalkan saja didalam kehidupan ini, seseorang harus memutuskan bagaimana menggunakan pendapatan mereka untuk memilih di antara semua barang dan jasa yang tersedia di pasar. Contoh lainnya yaitu seseorang harus memutuskan apakah akan bekerja, apakah akan pergi ke sekolah dan berapa banyak yang harus ditabung.

Dalam dunia bisnis harus memutuskan apa yang harus diproduksi, berapa banyak untuk diproduksi, berapa banyak untuk biaya, dan di mana harus mencari. Tidak mengherankan bahwa analisis ekonomi berfokus pada proses pengambilan keputusan.

Hampir semua keputusan melibatkan kompromi. Konsep kunci yang berulang dalam menganalisis proses pengambilan keputusan adalah gagasan biaya peluang. Biaya peluang timbul karena sumber daya yang langka. Kelangkaan berarti terbatas. Pertimbangkan salah satu sumber daya terpenting kita yaitu waktu. Hanya ada 24 jam dalam sehari, dan kita harus menjalani hidup kita di bawah batasan ini. Andaikan seorang petani di pedesaan harus memutuskan apakah lebih baik untuk terus bertani atau pergi ke kota dan mencari pekerjaan. Ketika memilih untuk mencari pekerjaan dikota, maka muncul biaya peluang berupa waktu yang harus direlakan untuk tidak bertani.

 

Biaya Peluang Vs Biaya akuntansi

Konsep biaya secara akuntansi dan konsep biaya peluang dalam ekonomi memiliki perbedaan. Biaya akuntansi merupakan total biaya yang eksplisit yang telah dikenakan pada masa lalu. Sedangkan biaya ekonomi merupakan jumlah biaya yang eksplisit dari perusahaan dan biaya yang implisit. Biaya ekonomi sinonim dari opportunity cost.

Biaya bagi akuntan merupakan keseluruhan biaya atau uang yang harus dikeluarkan untuk menghasilkan atau mendapatkan suatu barang. Misalnya saja ketika ditanya berapa harga sebuah film, kebanyakan orang menyebutkan harga tiketnya. Hal tersebut mirip seperti perhitungan biaya akuntansi. Bagi seorang ekonom, harga tiket hanya sebagian dari jawabannya. Melihat film tidak hanya membutuhkan tiket tetapi juga waktu. Biaya peluang (opportunity cost dalam ekonomi) untuk menonton film adalah nilai dari hal-hal lain yang dapat anda lakukan dengan uang dan waktu yang sama.

Biaya akuntansi didesain untuk disediakan bagi pihak-pihak diluar perusahaan seperti pemberi pinjaman dan investor. Biaya akuntansi haruslah bersifat obyektif dan dapat diverifikasi. Oleh sebab itu biaya akuntansi memasukan riwayat pengeluaran, yaitu secara eksplisit menggambarkan dana yang telah digunakan. Sehingga biaya akuntansi tidak akan memasukkan biaya implisit seperti tercantum dalam opportunity cost.

 

Contoh Biaya Peluang (Opportunity Cost)

  • Contoh biaya peluang dalam bisnis

Misalkan seseorang penjual rumah mempunyai uang 500 juta. Uang sebanyak 450 juta digunakan untuk membeli rumah bekas dan sebesar 50 juta dipergunakan untuk perbaikan. Biaya yang dikeluarkan secara akuntansi yaitu sebesar 500 juta. Karena dalam akuntansi melihat biaya yang eksplisit terjadi yaitu 500 juta. Bila dalam setahun penjual tersebut hanya mampu menjual 1 unit rumah dengan harga 540 juta. Keuntungan yang diperoleh dalam setahun sebanyak 40 juta.

Lantas bagaimana dengan opportunity cost (biaya peluang) nya? Mari kita ambil contoh pilihan terbaik yang harus direlakan karena memilih menjual rumah adalah merelakan peluang deposito berjangka. Selain menjual rumah, sebenarnya penjual bisa saja memilih menyimpan uangnya dalam bentuk deposito. Namun hal tersebut direlakan oleh penjual rumah.

Kita ambil contoh bunga deposito sebesar 5 % dan 10 % persen pertahun. Dengan deposito 5 %, penjual rumah tadi dapat memperoleh dana menjadi 525 juta. Berarti ada keuntungan sebesar 25 juta dari uang awal yang dimiliki. Bila deposito hanya 5 persen, menjadi keputusan tepat yang lebih menguntungkan bagi penjual rumah untuk tidak memilih deposito. Karena untung jual rumah lebih besar. Bandingkan misalnya ternyata depositonya sebesar 10%. Keuntungan yang dapat diperoleh penjual rumah tadi menjadi 50 juta bila memilih deposito. Dengan bunga deposito sebesar 10%, dan penjual tadi memilih untuk menggunakan dananya untuk menjual rumah, dalam pandangan opportunity cost sebenarnya ini menjadi rugi 10 juta. Karena peluang yang ditinggalkan jauh lebih menguntungkan dari pilihan yang dibuat.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *