Sat. Oct 19th, 2019

Fitec

Economics Review

Konsep Trickle down effect dan trickle up effect

5 min read

Trickle Down Effect

  • Pengertian Trickle Down Effect

Trickle down effect dalam suatu proses pembangunan secara tradisional adalah suatu pembangunan yang dipandang sebagai fenomena di mana percepatan pembangunan ekonomi yang diukur dengan pertumbuhan PDB pada akhirnya akan memecahkan berbagai masalah seperti pengangguran, kemiskinan, dan ketimpangan distribusi pendapatan.

 

  • Tokoh Pemikir

Pemikiran-pemikiran awal mengenai teori pembangunan ini diusung oleh banyak ekonom seperti Harrod Domar, Arthur Lewis, W W Rostow, Hirschman, Rosenstein Rodan, Nurkse, dan Leibenstein. Pemikiranpemikiran mereka tertuang dalam buku yang ditulis Arthur Lewis, The Theory of Economic Growth (1955). Dalam buku ini, kerangka teori melahirkan konsep pertumbuhan dan pertumbuhan ekonomi sebagai tujuan utama dari setiap kebijakan ekonomi di negara mana pun. Sepanjang dasawarsa 1950-an, pembangunan ekonomi selalu diidentikkan dengan pertumbuhan ekonomi, ekonomi pembangunan sebagai cabang ilmu ekonomi yang relatif baru memusatkan perhatian pada faktor-faktor penentu pertumbuhan ekonomi (Arndt, 1996).

 

  • Cara Kerja Trickle Down Effect

Teori trickle-down effect menjelaskan bahwa kemajuan yang diperoleh oleh sekelompok masyarakat akan sendirinya menetes ke bawah sehingga menciptakan lapangan kerja dan berbagai peluang ekonomi yang pada gilirannya akan menumbuhkan berbagai kondisi demi terciptanya distribusi hasil-hasil pertumbuhan ekonomi yang merata. Teori tersebut mengimplikasikan bahwa pertumbuhan ekonomi akan diikuti oleh aliran vertikal dari penduduk kaya ke penduduk miskin yang terjadi dengan sendirinya. Manfaat pertumbuhan ekonomi akan dirasakan penduduk kaya terlebih dahulu, dan kemudian pada tahap selanjutnya penduduk miskin mulai memperoleh manfaat ketika penduduk kaya mulai membelanjakan hasil dari pertumbuhaan ekonomi yang telah diterimanya. Teori trickle down menganggap, jika kebijakan ditujukan untuk memberi keuntungan bagi kelompok orang-orang kaya, maka keuntungan itu akan menetes kebawah kepada golongan miskin melalui perluasan kesempatan kerja, distribusi pendapatan melalui upah dan perluasan pasar.

Teori trickle-down effect menjelaskan bahwa kemajuan yang diperoleh oleh sekelompok masyarakat akan sendirinya menetes ke bawah sehingga menciptakan lapangan kerja dan berbagai peluang ekonomi yang pada gilirannya akan menumbuhkan berbagai kondisi demi terciptanya distribusi hasil-hasil pertumbuhan ekonomi yang merata. Teori tersebut mengimplikasikan bahwa pertumbuhan ekonomi akan diikuti oleh aliran vertikal dari penduduk kaya ke penduduk miskin yang terjadi dengan sendirinya. Manfaat pertumbuhan ekonomi akan dirasakan penduduk kaya terlebih dahulu, dan kemudian pada tahap selanjutnya penduduk miskin mulai memperoleh manfaat ketika penduduk kaya mulai membelanjakan hasil dari pertumbuhaan ekonomi yang telah diterimanya. Dengan demikian, maka pengaruh pertumbuhan ekonomi terhadap penuruan angka kemiskinan merupakan efek tidak langsung oleh adanya aliran vertikal dari penduduk kaya ke penduduk miskin. Hal ini berarti juga bahwa kemiskinan akan berkurang dalam skala yang sangat kecil bila penduduk miskin hanya menerima sedikit manfaat dari total manfaat yang ditimbulkan dari adanya pertumbuhan ekonomi. Kondisi ini dapat membuka peluang terjadinya peningkatan kemiskinan sebagai akibat dari meningkatnya ketimpangan pendapatan yang disebabkan oleh pertumbuhan ekonomi yang lebih memihak penduduk kaya dibanding penduduk miskin.

Pada mulanya upaya pembangunan Negara Sedang Berkembang (NSB) diidentikkan dengan upaya meningkatkan ukuran spesifik dari pendapatan nasional riil yang dinikmati masyarakatnya yaitu pendapatan per kapita atau populer disebut strategi pertumbuhan ekonomi. Pada awalnya pandangan tradisional membedakan antara negara maju dengan NSB dalam hal pendapatan masyarakatnya. Terdapat keyakinan bahwa dengan ditingkatkannya pendapatan per kapita diharapkan masalah-masalah ekonomi lain seperti pengangguran, kemiskinan, dan ketimpangan distribusi pendapatan yang dihadapi NSB otomatis akan dapat terpecahkan, misalkan melalui apa yang dikenal dengan istilah “dampak merembes ke bawah” (trickle down effect). Indikator berhasil tidaknya pembangunan semata-mata dilihat dari meningkatnya pendapatan nasional bruto (PNB) atau pendapatan domestik bruto (PDB) riil per kapita, dalam arti tingkat pertumbuhan pendapatan nasional dalam harga konstan (setelah disesuaikan dengan tingkat harga) harus lebih tinggi dibandingkan tingkat pertumbuhan penduduk.

 

TRICKLE UP EFFECT

Trickle up ffect atau Efek menetes keatas atau efek air mancur adalah teori ekonomi yang digunakan untuk menggambarkan keseluruhan kemampuan masyarakat kelas menengah untuk mendorong dan mendukung perekonomian. Teori ini didirikan oleh John Maynard Keynes (1883-1946). Hal ini kadang-kadang disebut ekonomi Keynesian di mana pertumbuhan ekonomi meningkat ketika pemerintah menurunkan pajak di kelas menengah dan meningkatkan pengeluaran pemerintah.

Teori trickle up mengemukakan, bahwa pembangunan yang ditujukan untuk kepentingan golongan miskin, pada akhirnya akan mengalirkan manfaat itu kepada golongan kaya di lapisan atas. Alasannya, orang-orang miskin yang secara umum mempunyai marginal propensity to consume (kecenderungan pengeluaran untuk konsumsi dari tambahan pendapatan yang diterima) yang lebih besar, cenderung mengeluarkan bagian dari pendapatannya yang lebih besar dari setiap tambahan pendapatan yang diterima dibandingkan dengan bagian pengeluaran orang kaya dari tambahan pendapatannya, maka tambahan penerimaan orang-orang miskin itu akan meluaskan pasaran bagi barang-barang yang dihasilkan oleh orangorang kaya. Dengan demikian dapat dibayangkan, kalau pembangunan yang dilakukan untuk kepentingan golongan miskin saja dapat mengalirkan manfaatnya kepada golongan kaya (trickle up), apalagi kalau kebijakan itu tidak ditujukan untuk kepentingan golongan miskin maka akan memberikan manfaat pula bagi orang kaya.

Menurut sebuah artikel di Pusat Ekonomi Progresif: “Libertarian bersaing bahwa kemakmuran yang dihasilkan di puncak ekonomi terakhir akan menetes ke orang lain. Tapi masalah dengan ekonomi laissez faire murni adalah bahwa kekayaan yang dihasilkan di atas tidak menetes ke masyarakat lain sampai batas yang memadai . Teori redistribusi kreatif Keynes dan implementasinya oleh FDR dan Perang Dunia II mulai memecahkan masalah ini, dan membuat resirkulasi kekayaan dari bawah ke atas, yang dapat disebut sebagai “tetesan.” Orang dapat membantah bahwa itu menetes efeknya lebih realistis, yaitu dengan membantu orang miskin maka efeknya akan melonjak ke orang kaya dan makmur. Namun sejumlah ekonom menunjukkan bahwa uang yang mengalir dari orang miskin ke makmur jauh lebih banyak daripada uang yang mengalir dari orang kaya kepada orang miskin.

Efek trickle-up tersebut menyatakan bahwa kebijakan yang menguntungkan kelas menengah secara langsung akan meningkatkan produktivitas masyarakat secara keseluruhan, dan dengan demikian manfaat tersebut akan “menetes” bagi orang kaya. Pada tanggal 17 Februari 2009, Obama menandatangani undang-undang Pemulihan Amerika dan Reinvestasi Act, paket stimulus ekonomi senilai $ 787 miliar yang ditujukan untuk membantu pemulihan ekonomi dari resesi di seluruh dunia yang terus berlanjut. Tindakan tersebut mencakup peningkatan belanja pemerintah federal untuk perawatan kesehatan, infrastruktur, pendidikan, berbagai keringanan pajak dan insentif, dan bantuan langsung kepada individu.

Para pendukung trickle-up effect berpendapat bahwa pertumbuhan cenderung meningkatkan ketidaksetaraan; dan itu membuat orang kaya lebih baik daripada orang miskin. Kenaikan ketidaksetaraan yang meningkat cenderung meningkatkan kemiskinan. Aghion dan Bolton (1997), memajukan pentingnya kebijakan redistribusi, untuk memperbaiki secara permanen efisiensi ekonomi.

 

  • KASUS TRICKLE UP INDONESIA

Perkembangan distribusi pendapatan Indonesia yang dinikmati oleh kelompok 40% penduduk termiskin mengalami penurunan dari 20,92 tahun 2002 menjadi 19,2 pada tahun  2006. Ironisnya, penurunan kue nasional yang dinikmati kelompok 40% penduduk termiskin justru diikuti oleh kenaikan kue nasional yang dinikmati oleh 20% kelompok terkaya dari 44,7% menjadi 45,7% pada tahun yang sama. Singkatnya, ada indikasi kuat adanya trickle up effect, efek “muncrat” ke atas, dalam proses pembangunan di Indonesia. Teori dampak menetes ke bawah (trickle down effect) agaknya tidak berlaku untuk negeri kita (Mudrajad Kuncoro, 2007).

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *