Sat. Oct 19th, 2019

Fitec

Economics Review

Inflasi: Pengertian, Jenis, Indikator dan Dampak

4 min read

Salah satu isu ekonomi yang selalu hangat untuk dibahas oleh berbagai kalangan yaitu tentang inflasi. Pada tulisan ini akan mengulas tentang inflasi terutama berisi pengertian inflasi, jenis inflasi, indikator inflasi dan dampak inflasi.

 

  1. Pengertian Inflasi

Pengertian inflasi adalah kenaikan harga barang-barang yang bersifat umum dan terus menerus. Ada tiga komponen penting yang harus diperhatikan dalam definisi inflasi ini yaitu adanya kenaikan harga, bersifat umum dan berlangsung terus-menerus. Harga dikatakan naik apabila harganya menjadi lebih tinggi dari periode sebelumnya. Misalnya harga sabun naik dari 1000 rupiah menjadi 1200 rupiah. Kenaikan harga barang tersebut belum tentu bisa dikatakan inflasi. Oleh sebab itu kenaikan harga yang disebut inflasi juga harus bersifat umum. Bersifat umum disini berarti kenaikan harga juga menyebabkan terjadinya kenaikan harga barang-barang lain secara umum. Sebagai contoh, harga manga pada musim nya dapat berharga 8000 rupiah. Namun sebelum musimnya dapat naik menjadi 10.000 rupiah. Kenaikan harga tersebut bukan inflasi jika harga barang lain tidak naik. Bandingkan dengan bila terjadi kenaikan harga BBM. Perhatikan saja contoh beberapa pengalaman di Indonesia, bahwa setiap pemerintah menaikkan harga BBM maka harga barang-barang lainnya ikut naik. Nah, kenaikan harga secara umum tersebut memang dimerujuk pada inflasi, namun masih ada satu hal lagi yang harus dipenuhi agar benar-benar dikatakan inflasi yaitu berlangsung secara terus menerus. Bila harga secara umum naik dalam waktu sesaat belum bisa dikatakan inflasi. Karena itu perhitungan inflasi dilakukan dalam rentang waktu minimal bulanan. Sebab dalam sebulan akan terlihat apakah kenaikan harga bersifat umum dan terus-menerus. Dan untuk rentang waktu yang lebih lama bisa dalam triwulan atau tahunan.

 

  1. Jenis Inflasi

 

  1. Indikator Inflasi

Ada beberapa indicator ekonomi makro yang digunakan untuk mengetahui laju inflasi selama periode waktu tertentu.  Beberapa diantara indicator tersebut yaitu:

  • Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index)

Indeks harga konsumen (IHK) adalah angka indeks yang menunjukkan tingkat harga barang dan jasa yang harus dibeli konsumen dalam satu periode waktu tertentu.  Angka IHK diperoleh dengan menghitung harga-harga barang dan jasa utama yang dikonsumsi masyarakat dalam suatu periode waktu tertentu. Setiap harga barang dan jasa tersebut diberi bobot berdasarkan tingkat keutamaannya. Barang dan jasa yang dianggap paling penting diberikan bobot paling besar.

  • Indeks Harga Perdagangan Besar (Wholescale Price Index)

Indeks harga perdagangan besar (IHPB) melihat inflasi dari sisi produsen. Hal ini berbeda dengan IHK yang melihat inflasi dari sisi konsumen. Oleh sebab itu, IHPB juga sering disebut sebagai indeks harga produsen (producer price index).  IHPB menunjukkan tingkat harga yang diterima produsen pada berbagai tingkat produksi.

  • Indeks Harga Implisit (GDP Deflator)

Selain kedua jenis indicator inflasi tersebut terdapat juga indicator lain yang disebut indeks harga implisit (GDP deflator) atau yang disingkat IHI. Pada kedua indicator (IHK dan IHPB) memiliki keterbatasan dalam menghitung inflasi. Hal ini karena IHK dan IHPB hanya melingkupi beberapa jenis barang dan jasa utama yang diperhitungkan serta lingkup wilayah yang hanya terdiri dari beberapa kota. Sedangkan pada kenyataanya jumlah barang yang ada memiliki banyak jenis dan wilayah yang dimiliki lebih luas. Oleh sebab itu ekonom menggunakan indeks harga implisit (GDP deflator) untuk mendapatkan amabaran inflasi yang paling mewakili keadaan sebenarnya. GDP deflator ini biasanya di perkenalkan dan dibahas dalam produk domestic bruto baik berdasarkan perhitungan harga konstan maupun harga berlaku.

 

  1. Dampak Inflasi

Harus diakui bahwa inflasi sampai pada tingkat tertentu dapat memicu pertumbuhan penawaran agregat. Sebab dengan kenaikan harga akan dapat memicu produsen untuk meningkatkan produksinya (output). Kendati belum dapat dibuktikan secara matematis, namun ekonom banyak sepakat bahwa inflasi yang aman adalah sekitar 5% oer tahun. Jikalau pun terpaksa, maksimal pada 10% pertahun. Sebab, umumnya inflasi diatas 10% apalagi sampai terjadi hiperinflasi (inflasi diatas 100%) pertahun biasanya akan menimbulkan biaya social. Terdapat beberapa masalah social yang akan muncul bila terjadi inflasi yang tinggi (>= 10% per tahun), diantaranya:

  • Menurunnya tingkat kesejahteraan masyarakat

Tingkat kesejahteraan masyarakat umum diukur dari daya beli pendapatan nya. Inflasi dapat menggerus daya beli masyarakat terutama masyarakat kecil yang berpenghasilan tetap. Sebagai contoh, misalnya pak Sudar adalah PNS golongan rendah dengan gaji Rp. 300.000 per bulan. Tahun lalu harga beras yaitu Rp. 1.500 per kilogram. Sehingga dengan gaji 300.000, gaji pak Sudar setara dengan  200 kg beras per bulan. Bila terjadi inflasi sebesar 20% per tahun, maka tahun ini gaji per bulan pak Sudar setara dengan 166 kilogram beras. Dari sini terlihat bahwa kemampuan membeli pak Sudar telah menurun dari setara 200 kilogram beras menjadi hanya 166 kilogram beras. Hal ini menunjukkan kesejahteraan pak Sudah menurun.

  • Memburuknya distribusi pendapatan

Dampak buruk lain dari adanya inflasi yang tinggi yaitu makin buruknya distribusi pendapatan. Misalkan inflasi tahunan sebesar 20%, sebenarnya dampak buruknya dapat dihindari jika mampu menaikkan pendapatan lebih dari 20%. Dengan tingkat pendapatan yang lebih tinggi akan mampu mengkompensasi kenaikan harga (inflasi). Namun yang jadi pertanyaan adalah, apakah semua kelompok masyarakat mampu menaikkan pendapatan melebihi tingkat inflasi tersebut? Akibat dari inflasi tinggi biasanya akan mengarah pada sebagian masyarakat yang tidak mampu menaikkan pendapatan melebihi tingkat inflasi bahkan cenderung menurun. Hal ini akan menyebabkan distribusi pendapatan dari sisi riil akan timpang.

  • Terganggunya stabilitas ekonomi

Pengertian paling sederhana dari stabilitas ekonomi adalah sangat kecilnya tindakan spekulasi dalam ekonomi. Produsen berproduksi pada kapasitas penuh. Konsumen juga memakai barang dan jasa optimal dengan kebutuhan mereka. Namun dengan adanya inflasi tinggi akan menyebabkan kondisi nyaman ini terganggu. Sebab adanya inflasi tinggi akan merubah perkiraan (ekspektasi) harga-harga dimasa mendatang. Bisa saja memunculkan tindakan spekulasi. Bagi produsen kenaikan, dengan perkiraan harga yang naik maka produsen akan menunda penjualannya untuk mendapatkan keuntungan lebih besar dimasa depan. Begitu sebaliknya bagi konsumen dengan adanya perkiraan harga naik maka akan memperbanyak permintaan lebih dari biasanya karena takut harga naik dimasa depan. Tindakan-tindakan spekulasi seperti ini dapat memperburuk inflasi dan stabilitas ekonomi terganggu.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *