Alasan Ibu kota harus pindah versi Menteri Bappenas

Alasan ibu kota pindah versi Menteri Bappenas
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional – Bambang Brodjonegoro

Ada 2 alasan kenapa ibu kota harus pindah versi Menteri Bappenas. Dua alasan tersebut diutarakan oleh Menteri Bappenas, Bambang Brodjonegoro. Dalam suasana pilpres yang masih hangat, wacana pemindahan ibu kota Republik Indonesia juga turut menghobohkan masyarakat. Tentu ada pro kontra dari lahirkan kebijakan pemindahan ibu kota ini. Pemerintah begitu semangat memperjuangkan pemindahan ibu kota diluar Jawa. Lantas apa sebenarnya alasan pemerintah getol untuk melakukan pemindahan ibu kota?

Terdapat 2 alasan yang disampaikan oleh Menteri Bappenas (17/4) kenapa ibu kota harus di pindah. Melalui halaman facebook nya, bapak Menteri Perencanaan Pembangunan, Bambang Brodjonegoro, mengutarakan bahwa alasan pemindahan ibu kota karena Jawa sudah lelah dan untuk pemerataan ekonomi. Bagaimana maksud dari kedua alasan tersebut? Berikut kutipan penjelasan dari status beliau:

Alasan Pertama:

“Kenapa Ibu Kota Harus Pindah? Alasan Pertama, Karena Jawa Sudah Lelah

Lebih dari separuh penduduk Indonesia (setara 150 juta jiwa) terkonsentrasi di pulau jawa yang luasnya lebih kecil dibanding Papua, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi

Lalu, kenapa memangnya kalau Jawa banyak orangnya? Jika berlanjut, Jawa tidak mampu menampung manusia sebanyak itu. 2 hal yang mau saya jelaskan, yaitu dari sisi air bersih dan pangan.

Sebagian besar wilayah pulau jawa sudah mengalami krisis air bersih. Kita mungkin tidak merasa, karena kita merasa berhak mengebor sumur. Yang jadi masalah adalah jika 1 rumah punya 1 sumur bor maka sama saja pelan-pelan kita menenggelamkan Pulau Jawa. DKI dan Jawa Timur adalah yang paling parah mengalami krisis air bersih.

Kedua adalah pangan. Ada alasan Belanda mengincar Jawa waktu menjajah dulu. Pulau Jawa subur. Beras paling cocok tumbuh di Tanah Jawa.

Namun, ketika ada 150 juta orang hidup dan beranak pinak, pelan-pelan lahan sawah yang subur tergerus menjadi perumahan, cluster, dan townhouse. Lihat saja disekeliling anda. Berapa banyak sawah yang kini dipasang iklan KPR atau promo perumahan baru?

Jika diteruskan, mau dimana lagi kita menanam padi? Kalau tidak ada padi, bagaimana kita akan makan nasi? Jika tidak ada air bersih dan pangan, bagaimana kita akan hidup?

Sudah saatnya ada pemerataan dan mobilisasi manusia dari Jawa menuju daerah-daerah lain. Pemindahan Ibu Kota adalah trigger awal untuk pemerataan. Hasilnya tentu tidak instan, namun jika kita tidak melakukan apapun maka resiko yang saya jelaskan tadi akan terjadi cepat atau lambat.”

 

Alasan Kedua:

“Kenapa Ibu Kota Harus Pindah? Alasan Kedua, Pemerataan Ekonomi

Sebagian besar ekonomi Indonesia (atau sekitar 58.5%) terjadi di Jawa dan 21,6% di Sumatera. Jika digabung, Maka hampir 80% ekonomi indonesia terjadi di Barat Indonesia.

Sudah ekonomi bagian barat Indonesia lebih besar dari bagian timur, pertumbuhan barat pun lebih tinggi. Jika diteruskan maka kesenjangan ekonomi antara barat dan timur akan makin besar.

Ini bukanlah keadlian sosial bagi seluruh raykat Indonesia yang diamanatkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar. Saudara-saudara kita di tengah dan timur Indonesia juga berhak menikmati pertumbuhan ekonomi

Pemindahan Ibu Kota Negara akan menjadi awal pemerataan ekonomi di luar Jawa yang nantinya akan diikuti pembangunan 10 Kota Metropolitan baru. Inilah visi pembangunan Indonesia-sentris, dimana ekonomi tidak hanya dinikmati mereka yang ada di Pulau Jawa saja.”

 

Muhammad Dzul Fadlli

Leave a Reply